Armstrong Indonesia | PT. Graha Patriatama Jaya | grahapatria.co.id

Teknik Pemasangan Plafon Gypsum (1)


Jenis plafon gypsum merupakan material yang banyak diminati konsumen. Hal ini dikarenakan banyak kelebihan yang dimiliki plafon gypsum. Selain pemasangannya yang mudah dan desainnya yang cantik dan elegan, harga material gypsum bisa dibilang murah. Selain itu desainnya pun bermacam-macam, sangat variatif. Perawatannya pun mudah.


Dengan proses pemasangan yang mudah, tentunya sistem rangka plafonnya pun mudah. Rangka plafon gypsum dibedakan menjadi dua berdasarkan jenis rangkanya, yaitu menggunakan rangka kayu dan metal. Namun penggunaan rangka kayu saat ini sudah sangat jarang digunakan karena memiliki banyak kelemahan. Selain susah didapat dan tidak tahan akan rayap, rangka kayu harus diserut terlebih dahulu dengan rata untuk mendapatkan pekerjaan yang rapi. Sedangkan penggunaan rangka metal seperti hollow atau pun metal furing, selain tahan rayap juga menghasilkan pekerjaan yang lebih cepat dan lebih rapi.


Rangka plafon gypsum dari metal furing menggunakan sistem suspended ceiling. Sistem ini menghasilkan kisi-kisi dari metal yang digantung di bawah atap atau dak beton menggunakan rangkaian kawat. Kisi-kisis tersebut kemudian akan ditutup dengan papan gypsum. Sistem suspended ceiling ini dibagi menjadi dua sistem ekspos, yaitu ekspos grid yang menonjolkan kisi-kisi rangka plafon, dan sistem tanpa sambungan (concealed grid) yang menghasilkan penampilan mulus dan bersih.


Untuk memasang rangka plafon metal furing memang tidak terlalu sulit, hanya saja dibutuhkan ketelitian, bahan, alat, serta teknik pemasangan yang tepat. Pada dasarnya ada beberapa langkah pemasangan plafon berikut ini:

  • Sebelum pengerjaan plafon dilakukan, seluruh pekerjaan di atas plafon harus sudah terselesaikan terlebih dahulu.
  • Langkah pertama yang terpenting dari pemasangan rangka adalah mengukur garis ketinggian plafon di sekeliling ruangan yang akan dipasang rangka. Dapat digunakan pengukur waterpass pada beberapa titik di sekeliling ruangan. Gambar garis untuk menyatukan titik tersebut.
  • Selanjutnya pemasangan wall angle (siku metal) sebagai penyangga metal furing. Tempatkan siku metal pada tanda garis. Dimulai dari dinding dengan luas terpanjang. Bor siku metal dengan jarak antar baut/sekrup 40 cm. Pastikan siku dibaut dengan kencang agar kuat menyangga metal furing.
  • Selanjutnya pemasangan siku metal pada dinding yang lain. Perlu diperhatikan bahwa pada sudut dinding siku metal sebaiknya dipasang saling tindih sepanjang 40 cm. Bentuk siku metal menjadi L di ujung dengan menggunakan gunting hollow. Kencangkan semua daerah metal yang bertindihan tersebut.
  • Setelah siku metal terpasang, beri garis menggunakan pensil atau spidol pada setiap 40 cm sebagai tanda bagi pemasangan metal furing. Jarak antar metal furing sebaiknya 40 cm atau jika ingin lebih longgar, maksimum 60 cm. Semakin besar jarak metal furing akan beresiko menghasilkan plafon yang tidak rata atau melengkung.
  • Potong metal furing dengan panjang yang direncanakan dan tempatkan di atas siku metal. Kencangkan dengan baut.
  • Rangka utama, yaitu main channel (main tee) atau C channel (cross tee) digantung pada kawat penggantung menggunakan U clamp. Kemudian tempatkan metal furing dengan posisi menyilang. Kaitkan persilangan kedua jenis metal tersebut dengan menggunakan channel clamp.
  • Langkah terakhir dari pemsangan rangka adalah penguatan rangka dengan pemasangan bracket dan hanger.

 

 

Sumber: http://andalan68.wordpress.com